Pages

Sabtu, 11 Mei 2013

Parasit Cacing (Hymenolepis nana)

1  .1 Sejarah
Hymenolepis nana ditemukan oleh Theodor Bilharz pada tahun 1851 dalam usus halus seorang anak di Kairo. Peneliti ini juga yang pertama kali memperkenalkan daur hidup langsung dari Hymenolepis nana. Inang definitifnya meliputi manusia, primata, tikus, dan mencit. Hymenolepis nana menyebabkan penyakit Hymenolepiasis. Hymenolepis nana juga pernah dilaporkan pada tupai,  monyet, dan simpanse.

2.2  Klasifikasi
Kingdom              : Animalia
Phylum                 : Platyhelminthes
Class                     : Cestoda
Ordo                     : Cyclophyllidea
Family                  : Hymenolepididae
Genus                   : Hymenolepis
Species                 : Hymenolepis nana
Nama penyakit     : Hymenolepiasis
    
2.3  Penyebaran penyakit / distribusi geografis
Hymenolepis nana adalah cestoda yang tersebar di seluruh dunia baik (kosmopolit) di daerah beriklim tropis maupun sedang. Seperti Mesir, Sudan, Thailand, India, Jepang, Amerika Selatan, Eropa Selatan, dan juga ditemukan di Indonesia. Infeksi dari Hymenolepis nana ditemukan banyak terdapat pada orang-orang dengan sanitasi yang buruk dan padat. Infeksi cestoda ini pada manusia sering terjadi pada anak-anak, juga terdapat di tikus dan mencit. Survey yang dilakukan di negara-negara menunjukkan frekuensi dari 0,2- 3,7% walaupun di daerah-daerah tertentu 10% dari anak-anak menderita infeksi ini. Di Amerika Serikat bagian selatan frekuensinya 0,3-2,9%. Infeksi ini kebanyakan terbatas pada anak-anak dibawah umur 15 tahun. Frekuensinya agak lebih tinggi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dan presentase infeksi pada orang negro kira-kira setengahnya dari bangsa kulit putih.
2.4  Morfologi dan siklus hidup
a.      Morfologi
Hymenolepis nana berbentuk seperti benang dan  mempunyai ukuran terkecil jika dibandingkan dari golongan cestoda yang ditemukan pada manusia,. Panjangnya kira-kira 25-40 mm dan lebarnya 1 mm. Terbagi atas kepala (skoleks), leher dan sederet segmen-segmen yang membentuk rantai (strobila).
Skoleks berbentuk bulat kecil, mempunyai 4 batil isap dan rostellum yang pendek dilengkapi dengan satu deret kait berjumlah 20-30 kait yang berfungsi untuk melekatkan diri pada permukaan mukosa intestin inang. Dibelakang kepala terdapat leher yang merupakan bagian yang bersifat poliferatif untuk membentuk segmen-segmen baru. Strobila terdiri atas proglotid-proglotid immature (segmen muda) – mature (segmen dewasa) – dan gravid, kurang lebih 200 segmen. Segmen dewasa (segmen mature) memiliki satu set alat reproduksi sendiri. Lubang genital terletak unilateral, terdapat 3 testis dan 1 ovarium.
Ukuran strobila biasanya berbanding terbalik dengan jumlah cacing yang ada dalam hospes. Strobila dimulai dengan proglotid imatur yang sangat pendek dan sempit, lebih ke distal menjadi lebih lebar dan luas. Pada ujung distal strobila membulat. Didalam proglotid gravid uterus membentuk kantong mengandung 80-180 telur.
Telur keluar dari proglotid paling distal  (proglotid gravid) yang hancur. Bentuknya lonjong, mirip buah lemon (ovoid) berukuran 30-47 mikron, mempunyai lapisan kulit yang terdiri dari dua membran sebelah dalam dengan penebalan pada kedua kutub, dari masing-masing kutub keluar 4-8 filamen. Telur berisi embrio heksakan atau embrio dengan 3 pasang kait (onkosfer).
Penyerapan makanan melalui tegumen (bagian luar tubuh cestoda yang berfungsi absortif dan metabolit) dan alat ekskresinya berupa sel api (flame cell).
b.      Siklus Hidup
Cacing dewasa hidup di usus halus beberapa minggu untuk mengalami perkembangbiakan dari proglotid immature menjadi mature selanjutnya menjadi proglotid gravid yang mengandung banyak telur cacing pada uterusnya. Proglotid gravid akan melepaskan diri dan bila pecah maka keluarlah telur cacing yang bisa dikeluarkan bersama feses manusia1. Telur Cacing ini kemudian termakan oleh serangga.2 Cacing ini tidak memerlukan hospes perantara. Bila telur tertelan kembali oleh manusia (Manusia dan hewan lainnya (tikus) terinfeksi ketika mereka sengaja atau tidak sengaja makan bahan yang terkontaminasi oleh serangga)3, maka di rongga usus halus telur menetas dan membentuk larva sistiserkoid, kemudian keluar ke rongga usus dan menjadi dewasa dalam waktu 2 minggu atau lebih4,5. Apabila sistiserkoid pecah maka keluarlah skolek yang selanjutnya akan melekat pada mukosa usus6. Skolek akan berkembang lebih lanjut menghasilkan proglotid immature, dan seterusnya berulang siklus tersebut (Proses pendewasaan kurang lebih 2 minggu)7.
Orang dewasa kurang rentan dibandingkan dengan anak. Kadang-kadang telur dapat menetas di rongga usus halus menjadi sistiserkoid sebelum dilepaskan bersama tinja9. Keadaan ini disebut autoinfeksi internal. Autoinfeksi dapat terjadi pada infeksi Hymenolepis nana, dimana telur mampu mengeluarkan embrio hexacanth mereka yang kemudian menembus villus dan meneruskan siklus infektif tanpa melalui lingkungan luar. Hal ini menyebabkan cacing dapat memperbanyak diri dalam tubuh hospes. Masa hidup cacing dewasa adalah 4-6 minggu, tetapi autoinfeksi internal memungkinkan infeksi bertahan selama bertahun-tahun. Cacing di dalam usus dapat mencapai jumlah 1.000 sampai 8.000 ekor pada seorang penderita.
2.5  Mekanisme transmisi
Penularan tergantung pada kontak langsung, karena telurnya yang resistennya lemah, yang tidak tahan terhadap panas dan pengeringan, tidak dapat hidup lama diluar hospes. Infeksi ditularkan langsung dari tangan ke mulut (fecal-oral route) dan makanan atau air yang terkontaminasi. Kebiasaan yang kurang bersih pada anak-anak menguntungkan adanya parasit ini pada golongan umur rendah. Hal ini sering terjadi pada anak-anak umur 15 tahun ke bawah. Kontaminasi terhadap tinja tikus perlu mendapat perhatian. Infeksi pada manusia selalu disebabkan oleh telur yang tertelan dari benda-benda yang terkena tanah, dari tempat buang air atau langgsung dari anus ke mulut. Kebiasaan hidup tidak hygienis memungkinkan terjadinya infeksi ini. Kebersihan perorangan terutama pada keluarga besar dan di perumahan panti asuhan harus diutamakan.

2.6  Sumber infeksi / hospes
Hospes definitifnya meliputi manusia, primata, tikus, dan mencit. Hymenolepis nana menyebabkan penyakit Hymenolepiasis. Hymenolepis nana juga pernah dilaporkan pada tupai,  monyet, dan simpanse.

2.7  Patofisiologi dan gejala klinis
Parasit ini biasanya tidak menyebabkan gejala. Jumlah yang besar dari cacing yang menempel pada dinding usus halus menimbulkan iritasi mukosa usus. Kelainan yang sering timbul adalah toksemia umum karena penyerapan sisa metabolit dari parasit masuk kedalam sistem peredaran darah penderita. Pada anak kecil dengan infeksi berat, cacing ini kadang-kadang menyebabkan keluhan neurologi yang gawat, berkurang berat badan, kurang nafsu makan, insomnia, mengalami sakit perut dengan atau tanpa diare, nausea, muntah, kejang-kejang, sukar tidur dan pusing. Bila supersensitif terjadi alergi. Eosinofilia sebesar 8-16%. Sakit perut, obstipasi dan anoreksia merupakan gejala ringan.

2.8  Diagnosis dan terapi
Diagnosa laboratorium dapat dilaksanakan dengan memukan telur atau bagian dari cacing dewasa pada sediaan tinja. Pemeriksaan dapat dilakukan secara langsung atau dengan cara tak langsung (konsentrasi). Pemeriksaan jumlah eosinofil dalam darah hanya sebagai pendukung, biasanya pada kasus infeksi parasit ini eosinofil akan meningkat 8 – 16 %.

2.9  Usaha-usaha pencegahan
Pencegahannya sukar, karena penularan terjadi langsung dan hanya satu hospes yang terlibat dalam lingkaran hidupnya. Pemberantasannya terutama tergantung pada perbaikan kebiasaan kebersihan pada anak. Pengobatan orang yang mengandung cacing ini, sanitasi lingkungan, menghindarkan makanan dan minuman dari kontaminasi, hindari pembuangan tinja sembarangan dan pemberantasan binatang pengerat (rodentia) juga dapat dilakukan.

2.10                      Pengobatan
Prazikuantel (dosis tunggal 25mg/kgBB) atau niklosamid adalah obat yang terpilih dan obat pertama yang memiliki evektifitas tinggi untuk infeksi H. nana.  Obat ini menyebabkan vakuolisasi dan vesikulasi tegumen cacing sehingga isi cacing keluar, mekanisme pertahanan tubuh hospes dipacu dan terjadi kehancuran cacing. Niklosamid dapat diberikan pada dosis 60-80 mg/kgBB selama 5-7  hari dan dapat diulang 10 hari kemudian untuk membunuh cacing yang berkembang di dalam vili pada saat obat pertama diberikan. Obat ini bekerja menghambat fosforilasi anaerobik ADP yang merupakan proses pembentukan energi pada cacing, sehingga cacing yang dipengaruhi akan rusak di sebagian skoleks, dan segmen di cerna sehingga tidak ditemukan lagi di dalam tinja. Bila masih ditemukan Hymenolepis nana setelah masa pengobatan berakhir, dapat diberikan tambahan seperti peningkatan dosis atau pemberian antiparasit (atabrine, bitional) dalam waktu yang lebih lama.

2 komentar:

 

Blogger news

Blogroll

About